Senin, 29 Juni 2009

PARTAI ISLAM KALAH, SIAPA SUSAH?

by Fuad Amsyari


Selama ini yang sering disebut sebagai Partai Islam adalah partai berasas Islam seperti PBB, PKS, PPP, PKNU, dll. Mereka umumnya dianggap atau dipercayai akan berjuang untuk menegakkan syariat Islam bidang sosial-kenegaraan dalam mengelola Indonesia yang berdasar Pancasila jika mereka berhasil memegang kekuasaan..

Dalam banyak jajak pendapat atau survey politik menjelang pemilu 2009 dilaporkan (lepas dari kualitas jajak pendapat itu) bahwa partai Islam hanya akan menjadi partai kelas menengah, artinya perolehan suaranya tidak lebih dari 6%. Perolehan ini amatlah jauh dibanding perolehan dari Partai Non-Islam (sekuler) seperti Golkar, PDIP, Demokrat, Gerindra, dll di mana dikatakan ada yang bisa mencapai di atas 20%. Jika hal itu menjadi kenyataan apa gerangan yang akan terjadi? Bukankah ini pertanyaan yang strategis, bukan asal memprediksi partai macam mana yang akan menang dalam pemilu nanti.

Melihat sejarah masa lalu Indonesia dan paham sekularisme di dunia politik maka jika partai sekuler memenangkan pemilu maka Indonesia akan kembali dikelola dengan mengabaikan ajaran Allah swt bidang sosial-kenegaraan. Pejabat negara apakah legislatif, eksekutif, dan yudikatifnya akan dikendalikan oleh Partai Non-Islam itu dan pengelolaan Indonesia lalu tidak banyak berubah seperti halnya di zaman Orde Baru dan era reformasi selama ini. Kebijakan-kebijakan nasional yang akan dibuat tentu berkisar begitu-begitu saja, dengan slogan menarik 'pembangunan untuk rakyat' namun metodanya tidak jelas, mudah berubah sesuai dengan arus yang sedang pasang di dunia umumnya mengikuti pola pembangunan negara sekuler, khususnya negara Barat. Maka pola pembangunan ekonomi, budaya bangsa , hukum, pendidikan. dan lainnya akan berputar sekitar variasi kebijakan pajak, moneter, pengembangan budaya serba boleh asal menguntungkan secara ekonomi, agama adalah masalah pribadi, taat atau tidak taat terserah masing-masing orang, hukum pidana tetap hasil peninggalan penjajah Belanda, perbankan dengan menggunakan riba, bahkan diajari oleh Bank Sentral (Bank Indonesia) berupa SUN dan SBI, perdagangan maya diunggulkan seperti bursa saham dan obligasi untuk mendapat keuntungan bagi pendapatan negara, aset bangsa termasuk kekayaan tanah air dieksplorasi secara maksimal untuk menutup kebutuhan pengeluaran negara yang besar, gaji pejabat tinggi negara termasuk Presiden, Menteri, Gubernur Bank Indonesia dan ekskutif BUMN termasuk para dirut BUMN amat tinggi disertai tunjangan-tunjangan yang terus bertambah macamnya, konglomerat dimanjakan dan menjadi semakin kaya raya karena mendapat dukungan penguasa baik fasilitas kemudahan berbisnis maupun permodalan.Berapa orang dari bangsa Indonesia yang memperoleh keuntungan dengan pola kebijakan seperti itu? Tidak banyak. Sebaliknya siapa yang menangis dalam pembangunan bangsa yang non-Islami tersebut? Rakyat miskin semakin banyak, dilaporkan 15% penduduk hidup miskin dan jika sedikit saja diangkat garis kemiskinannya maka orang miskin Indonesia mencapai lebih dari 50%, bersusah payah mencari penghidupan, jumlah bayi kurang gizi dan sakit hingga mati juga tinggi, anak putus sekolah juga banyak karena tidak ada dana biaya belajar yang mahal, lapangan kerja sulit, modal kerja bagi usaha kecil sulit, kejahatan meningkat sehingga rasa aman terganggu, mencari keadilan bagi rakyat kecil tidak mudah, suap dan korupsi terus membudaya sampai keakar rumput. Bangsa Indonesia menangis kecuali yang menduduki jabatan pemerintahan dan beberapa konglomerat, pengusaha sukses yang menjadi makin kaya, serta beberapa profesional, khususnya yang terjun di bidang hukum dan ekonomi.

Begitulah Indonesia yang dikelola tidak sesuai dengan tuntunan Allah swt bidang sosial-kenegaraan, tapi dikelola secara sekuler kapitalistik. Indonesia harus bersaing dengan negara kapitalis lain yang sudah kuat, maju, dan kaya-raya dalam memperebutkan kekayan ekonomi dan sumber daya alam dunia. Dalam persaingan bebas pasti akan kalahlah negara sekuler yang masih lemah kualitas penduduknya dan kecil permodalannya sehingga kekayaan alamnya akan semakin terkuras dan kedaulatannya akan semakin tergadaikan. Bukankah begitu kondisi negeri ini sejak masa kemerdekaannya yang sudah lebih dari 60 tahun itu? Rakyat banyak akan menangis, dan mereka umumnya justru kaum muslimin, sekitar 200 juta orang. Allah swt akan membiarkan Indonesia bersaing dengan dunia kapitalis lain tanpa perlindungan dan pertolongan non-empirik dariNya karena pemerintahannya berani meninggalkan tuntunanNya. Kini jelas mudah dipahami, siapa gerangan yang susah jika dalam pemilu ini partai Islam kalah. Siapa yang akan gembira jika partai Islam kalah? Tentulah kaum sekuler kapitalis, di dalam dan luar negeri yang akan terus hidup semakin makmur secara materi dari hasil eksploitasi sumber daya alam, kekayaan materi, dan perusakan budaya luhur bangsa Indoensia.

Banyak yang berfikir bahwa kalahnya Partai Islam dalam Pemilu akan membuat fungsionaris dan aktifis partai Islam bersusah hati. Benarkah dugaan seperti itu? Aktifis dan fungsionaris sejati Partai Islam tidak susah karena mereka berpartai bukan untuk mencari makan dari kegiatan politik, tidak akan mencari kekayaan dan posisi sosial dengan berpartai. Mereka berpartai karena panggilan perjuangan menegakkan syariat Islam yang menjadi tuntutan aqidah sebagai seorang mukmin. Mereka melaksanakan kewajiban agamanya. Mereka berpartai untuk memperoleh ridha Allah swt, bukan mencari nafkah dan status sosial. Kekuasaan bagi mereka hanya alat untuk menolong bangsa yang miskin, lemah, mustadhafiin karena dieksploitasi oleh orang atau bangsa lain. Jika bangsa itu tidak mau memilih Partai Islam maka itu tentu terserah pada bangsa itu sendiri untuk mau dikelola secara sekuler, jauh dari tuntunan Allah swt, serta merasakan dampak yang akan mereka terima. Kemenangan partai sekuler di Indonesia akan membuat rakyat Indonesia pada umumnya menangis, hidup di dunia fana penuh kesulitan karena dieksploitasi orang lain dan hidup di akhiratpun akan menderita karena memilih pemimpin yang tidak taat syariat.

Aksioma di atas jelas tertera dalam ayat al Qur'an: "APAKAH MEREKA HANYA MENGIKUTI TUNTUNAN ALLAH SEBAGIAN SAJA (ibadah mahdhanya) DAN MENGABAIKAN SEBAGIAN AYAT ALLAH LAINNYA (pengelolaan sosial-kenegaraannya). JIKA DEMIKIAN CARA MEREKA MAKA TIDAK LAIN IMBALAN YANG PANTAS KECUALI KEHINAAN DI DUNIA SEDANGKAN DI AKHERAT NANTI MEREKA AKAN MERASAKAN SIKSAAN YANG BERAT' (al Baqarah 85).

"APABILA PENDUDUK SUATU NEGERI BERIMAN-BERTAQWA (secara benar, dengan mengelola negerinya sesuai tuntunan Allah swt), MAKA AKAN DIDATANGKAN KEPADA MEREKA KEMAKMURAN DARI LANGIT DAN BUMI. NAMUN JIKA MEREKA INGKAR (mengabaikan tuntutan Allah swt dalam mengelola negerinya) MAKA AKAN DITIMPAKAN PADA MEREKA BANYAK MALAPETAKA KARENA ULAH MEREKA SENDIRI" (al A'raf 96).

Semoga umat Islam Indonesia bisa menyadari konsekwensi pilihan mereka dalam pemilu tahun ini. Sejarah Indonesia akan memberi buktinya.

Indonesia, awal April 2009.

About the Author

Fuad Amsyari was born in a rural Muslim society Sedayu, Gresik Regency, East Java Province, Indonesia. His basic profession is a medical doctor from Airlangga University, School of Medicine, one of leading medical schools in Indonesia. He got a Master degree from Royal Tropical Institute, Amsterdam, and PhD from Graduated School of Arts and Science, New York University.